Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra suka membantu memerah susu di sebuah kampung yang banyak ditinggal pergi kaum laki-lakinya. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, salah seorang wanita di kampung tersebut berkata, “Kini ia tak akan membantu memerah susu lagi”. Ketika ucapan itu sampai ke telinga Abu Bakar ra, ia pun berkata, “Tidak ! Saya berharap, apa yang saya alami kini tidak membuatku berubah dari apa yang telah aku lakukan”. Abu Bakar ra juga membebaskan banyak sahabat nabi lainnya dari perbudakan sehingga banyak harta kekayaan beliau yang dikorbankan untuk kepentingan dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad saw.

Di antara pesona sahabat Rasulullah saw yang menyedot simpati kaum muslimin adalah sifat memberi tanpa pamrih. Tak ada yang menggerakkan kebiasaan memberi terhadap sesama kecuali karena Allah SWT semata. Maka apapun reaksi orang yang menerima pemberiannya, bukanlah sebuah masalah. Karena mereka bukan mengharapkan imbalan dari manusia atau si penerima, melainkan hanya berharap kepada ridho Allah yang imbalan-Nya sungguh lebih utama. Seperti yang dilakukan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, pemberian seorang Mukmin terhadap sesamanya juga seharusnya didasarkan atas ketakwaan dan bukan hanya karena ada kepentingan tertentu.

Misalnya karena si fulan adalah keluarga, teman, kroni atau simpatisannya, maka ia lebih berhak memperoleh pemberian atau bantuan. Bukan ! Bahkan memberi sesuatu kepada orang yang tak pernah memberi pada kita dinilai sebagai akhlak yang paling utama. Dari Uqbah bin Amir al-Jahry ra berkata:
“Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Uqbah, maukah kamu kutunjukkan akhlak yang paling utama bagi penghuni dunia dan akherat ? (Yaitu) engkau menyambung (silaturahmi) dengan orang yang memutuskanmu, memberi kepada orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang mendzalimimu”. (HR Hakim).

Jadi bantuan seorang Mukmin bagi sesamanya tidak saja berisi pengorbanan dan perjuangan karena telah menyingkirkan ego kita, tetapi juga jauh dari mengharapkan suatu balasan dari si penerima. Dan pemberian seperti inilah yang bisa langgeng dan si penerima pun akan menerimanya dengan lapang dada sehingga do’a dan pujian untuk si pemberi pun akan mengalir dengan sendirinya secara tulus dan tanpa diminta.
Sayangnya pemberian seperti yang dicontohkan Rasulullah saw dan para sahabat kini nyaris punah dari kehidupan kita sehingga pemberian yang kita berikan terhadap orang lain dianggap sebagai hutang yang harus dibayar dan segalanya dikomersialkan. Yang lebih menyedihkan lagi, pemberian seperti inilah yang justru mewarnai sistem kehidupan kita. Sehingga ketika target dan ambisi si pemberi telah terpenuhi, maka pemberian bagi sesama pun tidak lagi dilakukan. Jika target dan ambisi tidak terpenuhi ??? Si pemberi merasa berhak mengambil kembali pemberiannya (walaupun dengan cara paksa…)
Naudzubillah…..