Nabi Muhammad saw berkata, dahulu ada seorang lelaki bernadzar, “Sungguh aku akan bersedekah dengan suatu sedekah.” Kemudian ia keluar dari rumah membawa sesuatu dan menyerahkannya ke tangan seorang pencuri. Melihat hal itu orang-orangpun mencemooh perbuatannya. Mereka berkata sinis, “Malam ini engkau bersedekah kepada seorang pencuri.” Namun orang itu berkata dengan tenang, “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu karena aku bisa bersedekah walaupun kepada seorang pencuri. Sungguh aku akan bersedekah lagi dengan sedekah lain.”

Kemudian ia keluar dari rumah membawa sedekah dan menyerahkannya ke tangan seorang pelacur.
Melihat hal itu orang-orangpun mencemooh perbuatannya. Mereka berkata dengan sinis, “Malam ini engkau bersedekah kepada seorang wanita pezina.” Namun lelaki itu dengan tenang berkata, “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu karena aku bisa bersedekah walaupun kepada seorang perempuan lacur.” Sungguh aku akan bersedekah lagi dengan sedekah lain.

Kemudian ia keluar dari rumah membawa sedekahnya dan menyerahkannya ke tangan seorang kaya. Maka orang-orangpun menyalahkan perbuatannya. Mereka berkata dengan mencibir, “Malam ini engkau bersedekah kepada seorang kaya,” Lelaki itu berkata lagi dengan tenangnya, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu karena aku bisa bersedekah kepada seorang pencuri, perempuan lacur dan orang yang berpunya.”

Pada malam hari, lelaki itu bermimpi mendengar suara yang mengatakan, “Adapun sedekahmu kepada si pencuri, maka mudah-mudahan dengan sedekahmu itu ia akan menjauhkan diri dari perbuatan mencuri. Sedangkan sedekahmu kepada perempuan lacur, mudah-mudahan sedekahmu itu membuatnya menjauhkan diri dari zina. Dan sedekahmu kepada orang kaya, mudah-mudahan orang itu bisa mengambil pelajaran dari sedekahmu sehingga ia mau menafkahkan harta yang dianugerahkan Alloh kepada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Al Baqarah; 262).

Dari “101 Kisah Teladan” karya Muhammad Amin Al Jundi.