“Wahai Zat yang tidak pernah bosan mendengarkan doa-doa. Wahai Zat yang tidak pernah gelisah karena permohonan. Wahai Zat yang tidak pernah menyia-nyiakan harapan. Wahai Zat yang memiliki anugerah yang tak pernah berkurang. Wahai Zat Yang Maha Kuasa menurunkan azab kepadaku. Akulah hamba-Mu yang paling fakir, yang membutuhkan segala pengampunan-Mu.”

Bermunajat kepada Alloh SWT bagi seorang hamba merupakan suatu keniscayaan. Dalam konteks ini yang terpenting adalah menunjukkan kondisi kepasrahan diri agar segala permohonan baik dapat terkabulkan. Doa itu bisa dilakukan sendiri, atau meminta orang lain untuk mendoakan. Semoga kita mendapatkan karunia kemurahan Ilahi sebagaimana saudara-saudara Yusuf as

Dosa-dosa yang tiada terkira telah membuatku terhina.
Ampunilah aku walau hanya dengan sedikit kebaikan-Mu.
Wahai Zat Yang Maha Pemurah, kasihanilah aku jika aku tidak tahu.
Bahwa kesalahanku sebanding dengan pengampunan-Mu.
Ya Alloh, Zat Yang Maha Mulia…
Aku mengadu kepada-Mu ya Alloh.
Seumpama anak-anak Ya’kub mengadu kepada Yusuf.
Bahwa penderitaan telah menimpaku.
Dan hanya Engkaulah yang tahu keadaan dan keberadaanku.
Barang daganganku yang kuhaturkan kepada-Mu, wahai Ilahi.
Memohon bayaran dari Yang Maha Mulia dan Maha Memenuhi Janji.
Penuhilah timbanganku dan berilah aku sedekah.
Karena aku orang fakir yang sengsara dan lemah.
Hamba yang sengsara telah datang mengharap limpahan kemurahan-Mu.
Kasihanilah, bermurahlah dan anugerahkanlah kelembutan-Mu.

Bentuk kepasrahan kepada Alloh yang dicapai dengan perasaan berdosa, akan mendorong kita benar-benar bertobat. Tobat yang benar adalah penyesalan yang disertai dengan perubahan kondisi buruk seseorang berubah menjadi baik. Pada hakikatnya, inilah kekayaan yang sesungguhnya.

(Dari buku “Ya Allah Aku Fakir Kepada-Mu”, Dr Khalid Abu Syadi)
http://azishtm.blogspot.com