Isa Alamsyah

Kenapa anak Indonesia takut hantu? Bagaimana tidak takut hantu, kalau setiap hari dijejali dengan tayangan hantu-hantu. Hantu selalu digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Sesuatu yang membuat orang dewasa lari tunggang langgang, kencing di celana, atau jatuh pingsan.
Hantu bahkan digambarkan punya kemampuan super untuk membunuh, terbang, menembus tembok dan berbagai kemampuan yang tidak dimiliki manusia.
Tanpa sadar, otak tak sadar anak-anak kita, bahkan kita sendiri, mempercayai hal itu, tanpa sadar tertaman pada diri mereka untuk takut hantu dan percaya hantu punya kelebihan.

Lebih buruk lagi, banyak orang tua juga takut hantu.
Mungkin akibat salah pendidikan waktu masih kecil. Di masa lalu atau bahkan sekarang mungkin kita pernah dengar yang seperti ini:
“Kalau kamu nangis terus, kalau gak diam, nanti kamu diculik kantong wewe!” kata ibu menakuti, lalu sang ayah menggedor pintu sebagai sound effek. Anak ketakutan. Dan kedua orang tua tersebut sukses membuat anak jadi pengecut.
Kalau anak gak mau makan, orang tua bilang, “Nanti makanannya dimakan kuntilanak, dia dateng ke sini.”
Terwarisilah kepengecutan itu pada anak-anak mereka.

Orang beriman belum tentu juga lepas dari paranoid hantu ini.
Seorang ulama menulis bahwa jika kita sholat lebih khusuk di tempat yang dibilang angker daripada di tempat bisa atau di mesjid, berarti kekhusukan itu muncul karena ketakutan kita pada hantu, ini justru membahayakan iman (saya lupa baca di buku apa tapi setuju dengan pendapatnya).

Hal seperti ini tidak terjadi di banyak negara barat.
Ketika saya bekerja di Jakarta International School, saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal, dengan anak-anak SD yang saya awasi, salah satunya berbincang tentang hantu.
Sebagian besar mereka tertawa, mereka bilang hantu cuma ada di TV, mereka bilang mereka tidak takut hantu, mereka bilang mereka tidak percaya hantu.

Saya sendiri umur sudah 38 tahun dan selama ini tidak pernah melihat hantu. Dan ketika saya tanya pada kakek-kakek yang usianya 70-an tahun, mereka seumur hidup juga belum pernah melihat hantu.
Memang kita harus percaya pada hal gaib, tapi bukan berarti harus percaya ada hantu.
Karena itu saya lebih suka mengajar anak-anak untuk tidak percaya ada hantu, daripada percaya dan takut hantu.
Kalau ada toh cuek aja.
Sering saya ajak anak-anak melewati rumah angker yang katanya ada hantu, lalu saya ajak lihat dan pandang, kali-kali ada hantu. Lumayan buat pengalaman.
Tapi tetap saja hantunya tidak keluar.

Intinya gak ada gunanya percaya ada hantu, jadi buat apa digembar-gemborkan.
Buat apa kita jadi bagian kemusyrikan.

Adam Putra Firdaus (9 tahun), bahkan mengunggapkan kegundahannya tentang anak-anak yang takut hantu dalam buku pertamanya Mostly Ghostly (Memburu gosip hantu-hantu).
Buku ini merupakan kisah seru 3 anak yang memburu gosip hantu yang ada di sekolah.
Ada hantu lumpur, kuntilanak di pohon bambu, sosok misterius di rumah kosong, dan berbagai gosip lainnya.
Bukannya takut, 3 anak itu malah mau mengunggkap ada apa di balik gosip itu.
Setelah diusut, ternyata kuntilanak di pohon bambu hanya ulah penduduk yang sering menjemur handuk putih di kala malam, yang dibilang hantu lumpur ternyata penjaga sekolah yang memang sedang membersihkan selokan, dan banyak peristiwa menarik yang berhasil diungkap.
Intinya buku Mostly Ghostly karya Adam Putra Firdaus ini ingin menunjukkan selalu ada penjelasan logis atas hal-hal yang terasa gaib.
Jangan langsung ke hantu saja.

Buku ini sangat cocok dibaca anak Indonesia agar punya keberanian, dan tidak takut hantu lagi.
Buku ini sangat tepat dibaca seluruh anak Indonesia agar lebih mengutamakan logika untuk menjabarkan masalah.
Lebih dari itu buku ini juga lucu dan menghibur.

Apakah bisa dibaca orang tua?
Tentu saja, karena buku ini juga menghibur orang dewasa yang membacanya.
Apalagi kalau orang tua takut hantu, supaya lebih tergoda, masak kalah sama anak kecil, sang penulis yang gak mau takut hantu.

Lebih penting lagi, bagi orang tua, buku ini adalah karya anak kecil usia 9 tahun, kelas 4 SD.
Orang tua bisa menyemangati anaknya untuk menulis karena Mostly Ghostly juga karya anak kecil. Jadikan momen anak ketika membaca buku ini sebagai momen untuk mendidik mereka agar tidak takut hantu dan memen untuk menyemangati mereka menulis.
Menyemangati anak bisa menulis berarti menyemangati mereka untuk membaca dan berpikir. (Apalagi buat orang tua yang ingin menyemangati anak lelakinya, karena ini adalah karya anak laki juga, maklum kebanyakan penulis anak adalah anak perempuan).

Semoga anak Indonesia dan kita tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang berkaitan dengan isu hantu-hantu.
(Buku Mostly Ghostly bisa di dapat di Gramedia, Gunung Agung dan Togamas, jika kesulitan silahkan beli online)

ditunggu komentarnya: http://bit.ly/9OWT4a