Kalo kamu sempat belajar psikologi, mungkin pernah dengar istilah konformitas. Nah, konformitas ini secara sederhana sering disebut kenyamanan (berada dalam sebuah kelompok). Supaya nggak bingung, Zi kutipkan definisi konformitas menurut Brehm dan Kassin. Kedua orang ini mengatakan bahwa konformitas adalah kecenderungan untuk mengubah persepsi, pendapat, perilaku seseorang sehingga konsisten dalam perilaku atau norma kelompok. Setiap seseorang yang masuk ke dalam suatu kelompok (termasuk kelompok pendukung sepakbola) memiliki kecenderungan untuk menyamakan presepsi, pendapat dan perilaku seseorang terhadap kelompoknya. Coba deh kamu lihat, nggak mungkin banget kan kalo ada suporter Viking tapi berhati Bonex.
Begitu juga nggak mungkin ada Banaspati (suporternya Persijap) tapi berjiwa Pasoepati (suporternya Persis Solo). Itu artinya kalo kedua klub kebetulan bertanding, pasti suporternya masing-masing membela klub kebanggaannya.
Intinya, menurut teori konformitas ini rasanya nggak mungkin ada individu kelompok yang berbeda dengan kelompoknya. Dalam level tertentu, meskipun ada individu yang berbeda tapi biasanya mereka ngikut pendapat kelompoknya karena khawatir ada celaan terhadapnya. Inilah yang juga terjadi dalam sepakbola. Melihat temannya jadi pendukung Maung Bandung, ikut-ikutan jadi bobotoh Viking. Nggak enak sama temannya yang mendukung Persija, rela juga jadi bagian The Jakmania. Kalo beda dianggap di luar kelompoknya. Jadi nggak nyaman kan hidupnya? Padahal mah, cuekkin aja lah.
Tetapi nggak semua remaja begitu. Lebih banyak yang ikut-ikutan arus yang besar, meskipun itu salah. Musibah memang.

Bro en Sis, jika dalam sepakbola saja banyak orang rela menjadi pendukung setianya, maka seharusnya dalam Islam kita bisa menjadi bukan hanya pendukung tapi pembela dan pejuangnya.
Perbedaan dukung mendukungnya hanya pada ideologi. Kalo para suporter sepakbola mungkin ada yang sekadar ikut-ikutan, ada yang memang menjadikan sepakbola sebagai muara emosi kesukuan dan kelompoknya, ada yang sebagai jalan hidup dan politik, maka para suporter Islam seharusnya menjadikan Islam sebagai pilihan hidup. Islam sebagai ideologi yang wajib diperjuangkan dan ditegakkan dalam kehidupan individu, masyarakat, dan juga negara.
Zi dan kawan-kawan suka sedih banget ketika melihat banyak teman kita yang sampe bela-belain memenuhi stadion untuk mendukung klub pujaannya bertanding, sementara untuk memenuhi masjid dalam pengajian mereka nggak mau meski udah kita kasih undangan khusus. Miris deh. (ayooo ngaku yg sering kek gitu..?? cukup ngaku dalam hati aja dech klo nggak berani jujur ma zizi ^_^)
Nggak abis pikir juga banyak kaum muslimin yang pelit ngeluarin zakat, infak dan shadaqah atau apapun yang berkaitan dengan kebaikan dalam Islam. Tetapi mereka jor-joran bin royal dalam membelanjakan uangnya untuk sepakbola: beli kaos, merchandise, tiket stadion dan lain-lain.
Aneh yang punya bapak ajaib alias aneh bin ajaib.

Kalo suporter sepakbola banyak yang mengerahkan tenaga dan pikirannya serta kreativitasnya dalam mendukung tim-tim kebanggaannya, tentu sebagai mukmin sejati seharusnya kita lebih hebat lagi dalam menyumbangkan tenaga, pikiran, dan memunculkan kreativitas untuk kemajuan Islam di berbagai bidang: pendidikan, dakwah, sosial, budaya, teknologi dan sebagainya. Inilah seharusnya yang membuat kaum muslimin berbeda dengan umat lainnya. Kaum muslimin lebih merindukan kehidupan akhirat ketimbang hiasan dunia yang sifatnya fana.
Soal ibadah juga seharusnya seorang muslim pejuang Islam lebih memilih memperbanyaknya. Jangan sampe kalah dengan para bolamania. Kita patut menyayangkan energi yang digeber tanpa lelah oleh mereka yang gila bola. Demi melihat aksi tim kesayangannya bertanding, tak bisa ke stadion maka di televisi pun tak jadi soal. Meski waktu mainnya di sini dinihari nggak jadi masalah.
Shalat tahajud? Ah, mungkin mereka sudah lupa. Aneh ya? Padahal kekuatan Islam seharusnya lebih menggerakkan untuk beramal baik sebanyak mungkin. Ironi memang.

Bro en Sis, banyak remaja muslim yang lebih mengenal nama-nama pemain sepakbola dalam negeri maupun luar negeri ketimbang nama-nama sahabat nabi atau kisah hidup para nabi. Banyak pula yang sudah menjadi martir dalam kerusuhan antar suporter sepakbola. Mereka berani mati demi klub kebanggaannya.
Tapi jarang yang secara umum terang-terangan mengatakan berani mati membela Islam sebagai agamanya. Mungkin saja ada, tapi saat ini jumlahnya tak sebanyak para suporter sepakbola. Kalo para suporter Liverpool saja menyemangati tim kesayangannya saat bertanding, maka seharusnya pemuda Islam lebih bersemangat lagi dalam berjuang membela Islam.
Kita kenal, para Liverpudlian, suporternya Liverpool sering menyemangati tim kesayangannya dengan menyanyikan: “Walk on… Walk on… with hope in your heart… and you’ll never walk alone…
Berjalanlah… berjalanlah dengan harapan di hatimu… dan kau takkan pernah berjalan sendirian…”
You’ll Never Walk Alone adalah lagu karya klasik Rogers dan Hammerstein, untuk penghias drama musikal Carousel. Gerry Marsden and The Pacemakers menyanyikan lagu ini di klub-klub yang bertebaran di kota Liverpool sejak 1963.
Mungkin, tak ada salahnya jika para remaja muslim menyanyikan nasyid untuk menyemangati dakwah. Misalnya lagunya Izzatul Islam yang liriknya kayak gini:
“Barisan mujahid melangkah ke depan/
Tanpa rasa takut menghalau rintangan/
Cahya Islam kan selamanya memancar/
Dengan darah kami sebagai pembakar”.
Tetep semangat berjuang sampai akhir hayat. Ehm, kalo dalam bahasanya White Lion sih: Till Death Do Us Part. Huhuy!

Bro en Sis, padahal kalo dipikir-pikir para suporter itu nggak dibayar lho untuk melakukan berbagai cara dalam mendukung klub kebanggaannya. Tapi segala cara dilakukan demi klub pujaannya. Yel-yel yang banyak terdengar di antara para suporter di ISL (Indonesia Super League) aja lebih mengarah kepada tindakan rasis dan pelecehan satu terhadap yang lainnya. Tak perlulah ditulis di sini sebagai contohnya karena sangat tidak etis (termasuk nama-nama binatang kerap dikumandangkan untuk melecehkan suporter lawan).
Apalagi saat ini, Piala Dunia 2010 tengah digelar dan mencapai babak perdelapan final, di mana klub-klub unggulan sudah ada yang lolos ke babak perempat final. Pastinya emosi para suporter makin diaduk-aduk karena tangga juara sebentar lagi diraih. Jerman, Argentina, Ghana, Uruguay adalah tim yang sudah lebih dulu menembus babak perempat final dengan mengalahkan lawannya masing-masing. Kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan para suporter ketika tim pujaan mereka saling ‘membunuh’ untuk menjadi juara.
Sekadar renungan Bagi kita, kaum muslimin, pembelaan tertinggi kita adalah untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin atas landasan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sementara para suporter fanatik klub sepakbola, lebih mengarah kepada loyalitas semu dan konyol.
Padahal, menurut Sayyid Quthb, kita mati karena membela negara yang nggak ada urusan dengan iman saja bisa dikatakan mati bukan di jalan Allah SWT…, apalagi sekadar urusan sepakbola…emang kalian semua mau mati bukan dijalan Allah?? nggak banget dech…
Rasulullah Saw bersabda (yang artinya): “Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme kelompok).” (HR Abu Dawud)
Syaikh Safiyurrahman al Mubarakfuri dalam kitab al-Ahzab as-Siyasiyyah fil Islam mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya): “Barangsiapa berjuang di bawah bendera kefanatikan, bermusuhan karena kesukuan dan menyeru kepada kesukuan, serta tolong menolong atas dasar kesukuan maka bila dia terbunuh dan mati, matinya seperti jahiliyah.” (HR Muslim)

Bro en Sis, jika “judulnya” sama-sama mendukung sesuatu dengan totalitas dan nggak dibayar, alangkah lebih eloknya bila kita membela Islam.
Menjadi suporter sepakbola itu nggak dibayar, sukarela dan bahkan mengeluarkan banyak duit, tenaga dan pikiran. Iya kan?
Membela Islam juga sama, tidak dibayar. Tenaga, pikiran dan harta kita rela dikeluarkan. Tetapi yang berbeda adalah nilainya dan rasa perjuangannya. Jika para suporternya menjadikan sepakbola sebagai muara emosi dan jalan hidupnya, maka sebagai pejuang Islam kita jadikan Islam sebagai muara emosi dan jalan perjuangan.
Para suporter sepakbola mungkin saja akan mati “fi sabili bola”, tapi pejuang Islam insya Allah mati “fi sabilillah”. Itulah bedanya.
Semoga kita tetap menjadikan Islam sebagai jalan hidup kita. Bukan yang lain. Islam sebagai ideologi kita.
Cukuplah sepakbola sebagai hiburan, itupun jangan berlebihan dan sekadar ditonton pertandingannya di televisi saja. Kalo mau main dengan kawan-kawan, mainlah seperlunya saja bukan sebagai profesi atau maniak. Sebab, yang layak dijadikan jalan hidup hanyalah Islam.
Sekali lagi: ISLAM.
Tetap semangat! nah apa kalian masih ngotot ni ngaku sebagai suporter klub tertentu??

klo zi mah ogah banget…^_^

‘Yuki Hime’ Izzatul Mardhiyah
http://azishtm.blogspot.com