Bulan Ramadhan adalah bulan kebaikan dan keberkahan. Allah SWT memberkahi hamba-hamba-Nya di bulan ini dengan banyak keutamaan dan diantara keutamaan yang Allah
SWT berikan bagi orang yang berpuasa adalah ketika ia berbuka puasa.

Keutamaan Berbuka Puasa
1. Menyegerakan berbuka berarti menghasilkan kebaikan, Rasulullah Saw bersabda:َْ
“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan bahwa Abu Athiyah dan Masruq datang menemui Aisyah ra untuk meminta pendapat beliau, ia (Abu Athiyah) berkata:
“Saya menemui Aisyah bersama dengan Masruq, maka kami berkata: “Wahai Ummul Mu’minin (bagaimana pendapat Anda dengan) dua orang dari shahabat Muhammad Saw yang salah satu dari mereka mempercepat berbuka puasa dan mempercepat (waktu) shalat, sedang yang lainnya mengakhirkan berbuka puasa dan mengakhirkan shalat?”, maka ia (Aisyah) bertanya:
“Siapa diantara keduanya yang mempercepat berbuka puasa dan mempercepat (waktu) shalat (Maghrib)?” kami menjawab: ”Abdullah yaitu bin Mas’ud”,
maka ia berkata:
“Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Abu Daud)

2. Berbuka puasa adalah salah satu dari dua kegembiraan. Rasulullah Saw bersabda:
“Seorang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu
Rabbnya” (HR. Bukhari)
Seorang yang berpuasa mendapatkan kegembiraan ketika berbuka, dikarenakan ia telah menyempurnakan puasanya dan telah menyelesaikan ibadahnya serta telah mendapatkan keringanan dari Tuhannya sebagai pertolongan baginya untuk berpuasa pada hari berikutnya (Lihat Tuhfathul Ahwadzi 3:396)

3. Menyegerakan berbuka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashrani. Rasulullah Saw bersabda:ُ
“Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya” (HR. Abu Daud)
Orang Yahudi dan Nashrani mereka mengakhirkan berbuka hingga munculnya bintang-bintang, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad, Rasulullah bersabda:ُِّ
“Ummatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka” (HR. Ibnu Hibban)
Berkata Imam Ibnu Hajar Al Asqalani: “Telah berkata Imam Syafi’i dalam kitab Al Umm:
“Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan yang disunnahkan dan mengakhirkannya bukanlah perbuatan yang diharamkan kecuali apabila menganggap bahwa mengakhirkan berbuka puasa terdapat di dalamnya keutamaan” (Lihat Fathul Bari 4:199)

Waktu Berbuka
Jika telah datang malam dari arah timur, menghilangkan siang dari arah barat dan matahari telah terbenam berbukalah orang yang berpuasa, Allah berfirman:َُ
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (QS. Al Baqarah:187)

Dari Umar ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:َ
“Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini dan matahari telah terbenam maka berbukalah orang yang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbuka Dengan Apa ??
Disunnahkan untuk berbuka dengan ruthab (kurma muda yang matang sebelum menjadi tamr) jika tidak ada maka dengan tamr (kurma matang) dan jika tidak ada maka dengan air, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ia berkata:َ ٍ
“Adalah Rasulullah berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum melaksanakan shalat, jika tidak ada ruthab maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering) dan jika tidak ada tamr maka beliau minum dengan satu tegukan air” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Hadits di atas juga merupakan dalil tentang disunnahkannya berbuka puasa sebelum shalat maghrib. Berkata Anas bin Malik: “Saya tidak melihat Rasulullah melaksanakan shalat hingga beliau berbuka puasa walaupun hanya dengan seteguk air” (HR. Ibnu Abdil Barr)
Imam Asy Syaukani dan lainnya berkata:
”Disyariatkannya berbuka puasa dengan kurma di karenakan kurma mempunyai rasa yang manis dan semua yang manis-manis dapat memperkuat penglihatan yang sempat melemah
ketika
berpuasa, ….dan
apabila sebab
disyariatkannya
berbuka dengan
korma tersebut adalah
rasa manis dan karena
rasa manis itu
mempunyai pengaruh
bagi badan maka hal tersebut tentu juga terdapat pada semua jenis makanan yang manis-manis” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 3:311)

Do’a berbuka puasa Sesungguhnya orang yang berpuasa
memiliki waktu yang
istijabah yang mana apabila ia berdo’a pada saat itu maka
Allah akan
mengabulkannya yaitu
ketika berbuka puasa.
Rasulullah Saw bersabda:ُ
“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki do’a yang tidak tertolak (yaitu) ketika berbuka” (HR. Ibnu Majah)
Adapun yang dibaca
sebelum berbuka puasa adalah membaca basmalah
yaitu “Bismillah”, hal
ini berdasarkan
beberapa dalil umum,
diantaranya:
1. Perintah Rasulullah Saw
Diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah,
Rasulullah bersabda:ْ
“Sebutlah nama Allah
(ucapkan basmalah),
makanlah dengan
tangan kanan dan makanlah apa yang berada di
dekatmu” (HR.
Bukhari dan Muslim) di hadits lainnya
Rasulullah bersabda:
“Apabila salah seorang
dari kalian makan
makanan maka
ucapkanlah
“ Bismillah” (HR. At
Tirmidzi)
2. Pemberitahuan
beliau bahwa syaithan
ikut serta makan
bersama manusia
apabila tidak
membaca basmalah.
Hal ini berdasarkan
hadits dari Umayyah
bin Makhsyiyyi , beliau berkata:
“Adalah Rasulullah Saw
duduk dan seseorang
sedang makan di
sisinya namun ia tidak
menyebut nama Allah,
hingga tidak tersisa
dari makannya kecuali sesuap dan ketika dia bermaksud untuk makan suapannya yang terakhir dia mengucapkan:َِ “Dengan nama Allah di permulaan dan di akhirnya”
maka Nabi Saw tersenyum kemudian bersabda:َِ
“Senantiasa syaithan makan bersamanya, lalu ketika ia menyebut nama Allah, syaithan memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya” (HR. Abu Daud)

Adapun do’a yang dibaca sesudah berbuka puasa adalah:
“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahala Insya Allah” (HR. Abu
Daud)
Do’a ini di baca setelah mencicipi makanan atau minuman berbuka puasa dan bukan sebelumnya karena tidak mungkin dikatakan telah hilang dahaga apabila belum makan atau minum
-Wallahu A’lam-

Dan masih terdapat beberapa do’a berbuka puasa selain do’a di atas namun semua riwayatnya tidak ada yang shahih, dan diantaranya adalah: “Ya Allah hanya kepadaMu-lah saya berpuasa dan atas rizki-Mu-lah saya berbuka puasa” (HR. Abu Daud) Berkata Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid: “Sanad hadits ini dhaif” (Lihat Tashih Ad Du’a hal. 507)
Berkata Syaikh Al Albani: “Sanad hadits ini dhaif, karena disamping hadits ini mursal, terdapat pula di dalamnya seorang rawi yang majhul (tidak dikenal) yaitu Mu’adz (bin Zuhrah)” (Lihat Irwa’ Al Ghalil 4:38)
Adapun dzikir-dzikir khusus dan do’a-do’a yang dibaca secara berjama’ah dengan nada-nada tertentu menjelang waktu berbuka puasa maka ini tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw
-Wallahu A’lam-

Memberi makanan untuk berbuka puasa
Orang yang memberi makan untuk berbuka puasa akan mendapatkan pahala yang besar dan kebaikan yang banyak, Rasulullah bersabda:َ “Barang siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan bagi orang yang diundang untuk berbuka puasa hendaknya memenuhi undangan tersebut selama di dalamnya tidak terdapat kemungkaran yang bertentangan dengan syariat, karena hal itu merupakan hak seorang muslim atas muslim lainnya, Rasulullah Saw bersabda: “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: (diantaranya)..Memenuhi undangan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan disunnahkan bagi yang diundang untuk mendo’akan kepada pengundangnya setelah selesai makan, dan diantara do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw:َ “Ya Allah berilah makan orang yang memberiku makan dan berilah minum orang yang memberiku minum” (HR. Muslim) atau membaca do’a:ُْ
Telah berbuka disisi kalian orang-orang yang berpuasa, makananmu telah dimakan oleh orang-orang yang bertaqwa dan para malaikat telah bershalawat kepada kalian” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
-Al Fikrah-
-Abu Muhammad Shabir bin Suhardi Al Atsari-Maraji’:
1. Shifatu Shoumi An Nabi fi Ramadhan, Salim bin ‘Ied Al Hilali dan ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid
2. Asy Syarh Al Mumti’ Ala Zadi Al Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin