(‘Yuki Hime’ Izzatul Mardhiyah)

Kalo Siti Nurhaliza pernah melantunkan Bukan Cinta Biasa, bukan latah ato ikut-ikutan kalo kali ini nyontek dan memplesetkan judul lagu tersebut jadi judul tulisan ini.
Bukan apa-apa, jujur aja kita terinspirasi, gitu lho. Boleh kan?

Oya, kenapa kita nggak mau dengan sesuatu yang “biasa”. Ehm, menurut kamus bahasa Indonesia, biasa itu artinya lazim atau umum. Itu sebabnya, kenapa kalo ada yang nggak umum atau nggak lazim kita nyebutnya luar biasa. Bisa untuk nunjukkin positif, bisa juga negatif. Bergantung tema yang lagi dibahas. Misalnya, untuk
menggambarkan betapa pinternya, bisa ditulis: luar biasa pinter. Begitu juga untuk ngejelasin betapa bodohnya, suka ditulisin: luar biasa bodoh. Hehehe.. sori ye bukan maksud diskriminasi.

Nah, yang akan kita bahas tentu sisi positifnya dong ya. Kalo bukan puasa biasa, berarti bukan puasa yang lazimnya kita lakuin saban Ramadhan yang udah-udah. Cuma nahan lapar dan haus di siang hari (termasuk nahan untuk nggak berhubungan seks di siang hari bagi yang udah married).
Kegiatannya sambil nunggu buka puasa cuma tidur, buang air besar, buang air kecil. Mungkin ada yang sekolah tapi loyo, ikut tarawih seperlunya aja, ngadain sanlat sekadarnya doang.
Idih, sederhana banget, gitu lho.
Padahal, sayang kalo Ramadhan dijalani cuma gitu-gitu aja?

Sobat muda muslim, bagi kita-kita yang udah segede gini, kayaknya kudu mulai malu deh kalo puasanya biasa-biasa aja. Cuma mindahin jadwal makan doang. Biasanya sarapan pagi, ditarik maju jadi sebelum shubuh, yakni makan sahur. Siang hari nggak makan. Pindah jadwalnya ke sore hari, yakni saat berbuka puasa pas maghrib. Suer, pantas malu kalo cuma segitu doang kualitas ibadah puasa kita. Sebab, ngelakuin puasa dengan tidak makan dan minum di siang hari bukan berarti puasa juga dari kegiatan ibadah lainnya. Justru sebaliknya, selama puasa kita semangat ibadah karena dikasih “bonus” banyak sama Allah SWT untuk beramal sholeh dengan pahala yang berlipat ganda. So, sayang banget kalo dilewatkan begitu saja.
Dari Salman al-Farisi ra berkata:
“Rasulullah saw berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang-orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun.
Kami berkata: “Wahai Rasulullah saw. Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?”
Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka.
Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaaha illallah dan beristighfar kepada-Nya. Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul Saw) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga” (HR al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani)

Waaah, kebayang banget deh gimana senangnya hati kita. Berbunga-bunga kalo membaca hadits ini. Abisnya Allah SWT udah nunjukkin rasa sayang-Nya ama kita-kita. Ngasih bonus pahala yang banyak di bulan Ramadhan ini. Lha, kalo kitanya cuek aja, apa pantas jadi hamba-Nya? Apa pantas juga kalo kita nggak taat sama Allah? Duh, moga kita nyadar ye. Agar puasa tak sia-sia.
Sobat muda muslim, sungguh sayang seribu sayang kalo puasa kita cuma nahan lapar dan haus doang. Nggak ada pahala yang didapat. Rasulullah Saw bersabda:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)
Duh, rugi banget deh. Jujur aja pasti kita nggak mau kan kalo puasa kita tuh cuma dapetin lapar dan haus doang? Jangan sampe deh sia-siakan puasa kita.
Nah, hadits di atas tadi ngasih gambaran buat kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab nih, puasa nggak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum doang, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang (ayo, matanya jangan ampe jelalatan kayak mo maling jemuran), menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang.
Duh, duh, kok jadi banyak banget larangannya? Hehehe.. kalem sobat, itu tandanya Allah SWT dan Rasul-Nya emang perhatian sama kita-kita. Larangan itu tanda cinta dan sayang lho. Sebab, nasihat nggak selamanya berupa ajakan kebaikan (amar ma’ruf), tapi juga melarang kemungkaran (nahi munkar).

Selain itu, di malam bulan Ramadhan nih, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; shalat tarawih dan tadarus Al Qur’an, misalnya. Dorongan untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipahami bahwa shalat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Jangan sampe tarawih aja yang semangat dikerjakan karena senang rame-rame ama temen, eh, sholat Isya malah kelewat nggak dikerjakan. Waduh, nggak banget deh. Sobat, dalam urusan ibadah di bulan Ramadhan ini, jangan sampe kita ngelaksanain cuma memenuhi ibadah ritual doang. Terjebak dalam ritualisme. Artinya apa? Artinya kaum Muslimin, kita-kita nih, ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan esensi dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna. Gaswat deh kalo sampe kejadian begini. Dan, kalo diliat-liat sih emang begitu. Sedih banget euy. Coba aja interospeksi diri atau mungkin ngeliat lingkungan sekitar. Pas di sekolah, pas di pasar, atau mungkin di perjalanan. Betapa banyak saudara kita (termasuk kita, barangkali) yang masih cuma bisa nahan lapar dan haus doang. Tapi nggak bisa nahan nafsu untuk nggak ngelakuin kemaksiatan. Ati-ati ye!

Itu sebabnya, sungguh disayangkan banget kalo di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan haus, tapi malah nggak bisa berkutik saat melawan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi nggak bisa menahan dari menggunjing, mengumpat, dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita, menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus.

Sobat, Islam adalah totalitas. Itu artinya, saat kita ibadah dengan ketika kita bermuamalah dalam kehidupan duniawi kita, keduanya harus senantiasa berpatokan kepada aturan Islam. Bukan yang lain. Oke? Hmm.. semoga kamu sekarang udah paham ya. Insya Allah.