Tanpa perikemanusiaan, negara teroris Amerika rela mengorbankan rakyatnya sendiri dalam peristiwa 11 September 2001. Sayangnya George W Bush dan penerusnya, Obama, tak mau mengakui itu. Justru tanpa bisa menunjukkan bukti, mereka menuding Islam ada di balik serangan tersebut. “Menara itu runtuh diserang oleh teroris Muslim yang digerakkan oleh Usamah bin Laden dari Afghanistan,” begitu pers Amerika bicara.

Namun, fakta sebenarnya tak pernah bisa ditutupi. Theiry Meyssan, jurnalis asal Prancis, dalam investigasinya menemukan bahwa apa yang dikatakan oleh pemerintah Amerika dan didukung oleh media massanya (90% milik Yahudi) adalah bohong besar.
Ia mengungkapkan temuannya dalam buku berjudul 9/11 The Big Lie America.
Menurutnya, sangat mustahil sebuah pesawat bisa menabrak gedung dengan presisi yang sangat tinggi. Pilot yang berpengalamanpun sulit melakukan. Apalagi jika dikatakan bahwa pilotnya baru lulus latihan.
Kejanggalan lainnya, tak mungkin gedung itu runtuh karena terbakar bahan bakar pesawat. Asosiasi Pemadam Kebakaran New York dan journal Profesional, Fire Engineering, menyatakan, struktur bangunan tersebut tahan api. Para petugas pemadam kebakaran malah mendengar ledakan di lantai dasar bangunan.

Pakar terkenal dari Institut Pertambangan dan Teknologi, Van Romero pun mengamininya. “Keruntuhan itu diakibatkan oleh bahan peledak,” katanya.

Karenanya gedung Pentagon yang katanya ditabrak oleh sebuah pesawat Boeing pun kian menunjukkan rekayasa tragedi ini. Foto-foto ekslusif hasil karya wartawan AP, Tom Horan, mengindikasikan tidak terjadi kerusakan yang berarti di gedung Departemen Pertahanan Amerika itu. Lalu apa yang menabrak? Banyak kejangglan lainnya. Bau busuk itu tak bisa ditutupi.

Sehari sebelum peringatan serangan 11 September 2001, Architects and Engineers for 9/11 Truth mengatakan bukti tentang penghancuran gedung menara kembar World Trade Center telah muncul yang menunjukkan penggunaan bahan peledak yang digunakan untuk menghancurkan gedung tersebut.

Gregg Roberts, seorang anggota organisasi nirlaba yang mempersoalkan sengketa hasil penyelidikan resmi serangan 11 September, mengatakan sebagai “cerita resmi adalah sebuah kebohongan, itu merupakan penipuan.” Menurut para ahli, menara kembar mengalami kehancuran total dalam waktu 10-14 detik dekat percepatan jatuh bebas yang hanya dapat terjadi sebagai hasil dari penghancuran bahan peledak yang sudah ditentukan sebelumnya.

“Harus ada bahan peledak, tidak ada cara lain untuk bangunan runtuh secara simetris ke bawah… seperti sebuah pohon jika Anda memotong pohon, ia jatuh ke samping yang Anda potong,” kata Steven Dusterwald, salah seorang anggota lainnya dari organisasi tersebut.

Kelompok ini juga menegaskan bahwa logam cair ditemukan setelah penyelidikan 9/11. “Bahan bakar jet dan kebakaran kantor tidak dapat mencairkan besi atau baja. Mereka bahkan tidak mendapat separuh panas seperti itu sehingga sesuatu yang lain ada di sana, bahan yang sangat energik yang harus ditempatkan di seluruh bangunan,” kata Roberts.
“Begitu kita mengambil penutup mata, kita dapat melihat. Sangat sedikit orang di Amerika yang mengambil penutup mata. Jadi kita membantu orang dengan menunjukkan bukti,” kata pendiri Architects and Engineers for 9/11 Truth Richard Gage.
“600 arsitek yang saya wakili paling prihatin tentang runtuhnya terjun bebas dari bangunan 7 [World Trade Center], pencakar langit ketiga [yang] tidak terkena tubrukan pesawat pada sore hari 9/1… hancur dalam 6,5 detik,” kata American Free Press mengutip perkataan Gage.
World Trade Center 7 dilaporkan ambruk sekitar delapan jam setelah menara utama gedung WTC jatuh.

Bukti baru tersebut membatalkan alur cerita resmi bahwa 19 teroris al-Qaeda membajak empat pesawat komersial dan menabrakkan diri ke menara kembar gedung WTC di New York City.

Kelompok The Architects and Engineers for 9/11 Truth menyerukan Jaksa Agung AS Eric Holder untuk meminta juri federal melakukan penyelidikan atas dugaan menutup-nutupi, yang Gage katakan sebagai “kejahatan terbesar di abad ini”.
“Jika ada pihak yang bertanggungjawab,” mantan Senator Mike Gravel mengatakan, “Berakhir dengan [mantan Presiden George W.] Bush dan turun ke [Mantan Wakil Presiden Dick] Chaney, lalu ke militer dan berbagai birokrasi. Tidak ada pertanyaan bahwa kegiatan seperti ini pergi ke tempat teratas.”

Bagaimanapun juga, serangan 11 September telah dijadikan pretext bagi Amerika untuk melakukan serangan-serangan brutalnya atas negeri kaum Muslim.
Amerika melancarkan kampanye busuk “Perang Melawan Terorisme” yang menutupi kejahatannya atas kaum Muslim. Hal tersebut terus terjadi hingga hari ini, seperti di Irak dan Afghanistan.
Atau negara-negara yang ‘TIDAK SECARA LANGSUNG’ dijajah seperti Indonesia dan negara Muslim lainnya.

SO….. PAKAR N ILMUWAN AMERIKA AJA GAK PERCAYA…
APAKAH KALIAN MUSLIM INDONESIA MASIH PERCAYA PENIPU AMERIKA ???

http://azishtm.blogspot.com