Di penghujung Ramadhan, sebagian besar kalangan disibukkan oleh masalah makanan yang disajikan atau barunya pakaian. Dan berapa dari mereka yang peduli akan amal-amal sepanjang bulan Ramadhan yang mereka lakukan?

Padahal bisa jadi amal-amal itu dinilai usang oleh Sang Pencipta alam dan kemudian dicampakkan tanpa balasan yang telah dijanjikan.
Alangkah meruginya jika Ramadhan berlalu dari hadapan namun hanya rasa lapar dan dahaga yang
didapatkan. Alangkah merananya jika Ramadhan telah pergi meninggalkan namun tak ada pahala dan ampunan yang dianugerahkan.
Alangkah nestapanya jika Ramadhan telah berganti bulan namun tiada bekas ketaqwaan yang tinggal dalam diri seseorang.

Dan lihat pula, ada banyak manusia bergembira, seakan mereka baru keluar dari penjara. Merasa merdeka setelah sekian lama terbelenggu kebebasannya dan tersiksa karena harus menahan lapar dan dahaga sepanjang siangnya. Andai mereka tahu, saat Ramadhan berlalu, langit dan bumi menangis dan bersedih hati. Demikian juga para malaikat yang larut dalam ratap atas musibah yang menimpa kita, para manusia.
Inilah musibah…

Inilah musibah, ketika belenggu-belenggu syetan mulai dilepaskan dan mereka kembali leluasa menggoda manusia dengan bisikan-bisikannya.
Inilah musibah, ketika malam-malam tak akan ada lagi qiyam ramadhan. Dan di saat siang tak ada lagi perisai yang menahan seseorang dari hal-hal yang diharamkan.
Inilah musibah, ketika pahala amal ibadah yang sepanjang bulan puasa berlipat ganda menjadi kembali biasa seperti bulan-bulan lainnya.
Inilah musibah, ketika tak ada lagi ampunan juga pembakaran kesalahan yang dijanjikan layaknya sepanjang bulan Ramadhan.
Inilah musibah itu. Ketika keutamaan ramadhan, keberkahan dan kelezatan peribadatan telah berlalu seiring dengan beduk takbiran yang bertalu.

Manusia, mereka pun bersuka ria saat hari raya. Dengan pakaian barunya. Dengan hidangan yang berlimpah di meja.
Dan berkata, “Inilah hari raya! Inilah hari kemenangan bagi kita.”
Tak ada salahnya berbahagia di hari raya dengan mengenakan pakaian yang indah di pandang mata, juga makanan lezat yang menggugah selera.
Namun, apa artinya hari raya dan kemenangan jika selepas ramadhan tiada ketaqwaan yang bersemayam?
Apa arti hari raya dan kemenangan jika tanpa bertambahnya ketaatan setelah berpuasa satu bulan?
Apa arti hari raya dan kemenangan jika kembali melakukan kemaksiatan berulang setelah dosa-dosanya dihapuskan?
Apa arti hari raya dan kemenangan jika amal kebaikan dan keshalehan hanya dilakukan selama satu bulan, sedang sebelas bulan yang lain kembali menjadi pendukung kemunkaran dan berjalan di jalan syetan?

Sungguh! Kemenangan setelah Ramadhan bukanlah karena pakaian baru yang dikenakan seseorang.
Hari Raya bukan pula milik orang-orang yang melampiaskan kesenangan dengan berlebihan setelah merasa dibelenggu oleh istilah “pengekangan hawa nafsu.”
Namun hari raya dan kemenangan adalah milik orang-orang yang senantiasa bertambah ketaatannya dan terus berusaha meretas jalan menuju taqwa di sebelas bulan berikutnya.

Wallahu a’lam…..