Pertama: Semangat Hijrah
Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharusnya merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.

Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani). Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 Februari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.

Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu. Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).

Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke Madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin – Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin – Anshar. Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam.

Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hadits Rasulullah yang sangat populer menyatakan,
”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”.
Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.”
Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:
اَهُّيَأاَي َنيِذَّلا اوُنَمآ اوُقَّتا َهَّللا ْرُظْنَتْلَو ٌسْفَن اَم تَمَّدَق ٍدَغِل اوُقَّتاَو َهَّللا َّنِإ َهَّللا ٌريِبَخ اَمِب نوُلَمْعَت )رشحلا18 )
”Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah Maha Tahu dengan apa yang kamu perbuatkan”. (QS. Al Hasyar: 18).

Karakteristik Kedua:
Di sunnahkan berpuasa
Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari ‘asyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa as. Dari Ibnu Abbas ra, ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah Saw bertanya, “Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?”
Mereka menjawab, “Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa.”
Rasulullah Saw bersabda, “Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian.” (HR Abu Daud).

Puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Rasululllah Saw bersabda:
نع يبأ ةريره يضر هللا هنع لاق: لاق لوسر هللا : لضفأ مايصلا دعب رهش ناضمر رهش هللا يذلا هنوعدت مرحملا، لضفأو ةالصلا دعب ةضيرفلا مايق ليللا .
Dari Abu Hurairah ra, Rasululllah Saw bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa dibulan Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR Muslim, Abu Daud, Tarmizi, dan Nasa’).

Puasa pada bulan Muharram yang sangat dianjurkan adalah pada hari yang kesepuluh, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah ‘asyuura. Aisyah ra pernah ditanya tentang puasa ‘asyuura, ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain Nabi juga menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘asyuura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.
نع يبأ ةداتق يضر هللا هنع لاق : لئُس يبنلا ىلص هللا هيلع ملسو نع مايص موي ءاروشاع ، لاقف : ينإ بستحأ ىلع هللا نأ رفكي ةنسلا يتلا هلبق . هاور ملسم
Dari Abu Qatadah ra, Rasululllah Saw ditanya tentang puasa hari ‘asyuura, beliau bersabda: ”Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat” (HR Muslim).

Disamping itu disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelum ‘Asyuura yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, sebagaimana sabda Nabi Saw yang termasuk dalam golongan sunnah hammiyah (sunnah yang berupa keinginan/ cita-cita Nabi tetapi beliau sendiri belum sempat melakukannya): Ibnu Abbas ra menyebutkan, Rasulullah Saw melakukan puasa ‘asyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah Saw bersabda, “Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal 9 Muharam.” Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud).

Berdasar pada hadits ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal 9 Muharram. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharram. Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah Saw bersabda,
“Puasalah pada hari ‘asyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum ‘asyuura dan sehari sesudahnya.” (HR Ahmad).
Ibnu Sirrin berkata: “melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharram. Boleh jadi yang kita kira tanggal 9, namun sebenarnya sudah tanggal 10”. (Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab VI/406) .

Mudah-mudahan dengan masuknya awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa merancang hidup kita kedepan agar lebih baik dan bermanfaat bagi umat manusia, yakni mengubah perilaku buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.