Oleh: Fahri Hidayat

Ada sebuah kisah tragis yang di catat sejarah pada tahun 1945, ini adalah cerita tentang peristiwa yang terjadi pada penghujung perang dunia II. Saat itu pasukan sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom yang meledak di dua kota besar di Jepang, yaitu Hirosima dan Nagasaki. Dunia dihebohkan dengan peristiwa itu. Jutaan mata terbelalak menyaksikannya. Ini adalah bom terbesar yang pernah digunakan dalam sejarah perang hingga saat itu. Praktis, setelah itu Jepang langsung bertekuk lutut kepada sekutu.

Jepang mengaku kalah. Sebagai pihak yang kalah dalam perang Jepang tentu menderita kerugian yang sangat besar. Biaya perang yang begitu besar menguras anggaran negara. Belum lagi ditambah biaya ganti rugi yang harus disetorkan kepada pihak yang menang. Kekalahan Jepang ini pasti akan berdampak sistemik. Yang paling dapat dirasakan secara langsung adalah krisis ekonomi. Jepang benar-benar berada di persimpangan jalan.

Melihat realitas yang sedemikian terpuruk ini, banyak kalangan yang beranggapan bahwa sejarah Jepang akan berhenti disini. Di atas puing-puing bangunan yang hancur berkeping-keping inilah Kaisar Jepang berdiri. Tidak tampak dari wajahnya aura putus asa. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan rasa optimis menatap masa depan. Ia tidak menghiraukan anggapan orang yang mengatakan Jepang akan mati suri. Ia memandang dari kacamata yang lebih maju. Di tengah-tengah situasi seperti ini Ia justru berkata: ”Tenanglah, kita masih memiliki banyak guru !”.
Setelah itu Ia segera memberikan instruksi untuk mengumpulkan para guru yang masih hidup. Perintah itu dilaksanakan dengan baik. Para guru itu diberdayakan dengan baik oleh Negara. Merekalah yang mendidik masyarakat, menanamkan motivasi kepada rakyat Jepang untuk mampu berkompetisi, dan membangun Jepang melalui jalur pendidikan.
Langkah Kaisar ini terbukti membawa hasil yang signifikan. Dalam waktu yang relatif singkat, Jepang mampu bermetamorfosis menjadi negara besar yang sangat diperhitungkan di dunia.

Hari ini, mungkin orang tidak pernah menyangka bahwa negara teknologi itu 50 tahun yang lalu hanyalah sebuah negara yang terpuruk. Satu hal yang dapat diambil dari kisah ini adalah fakta bahwa guru memegang peranan yang sangat penting dalam proses transformasi peradaban. Wajah sebuah negara akan sangat tergantung pada bagaimana para guru membentuknya.

Dalam skala mikro, guru juga sangat berpengaruh pada perkembangan individu. Tokoh-tokoh besar yang pernah ada di dunia ini, jika diperhatikan, pasti ada seseorang yang berada di balik layar kebesarannya. Dan seseorang itu adalah guru. Siapa yang tidak mengenal Alexander The Great, sang penakluk paling legendaris sepanjang masa. Jika kita melihat sejarah hidupnya sejak kecil, ternyata Ia adalah murid Aristoteles, Filosof besar dari Yunani.

Contoh lain adalah Muhammad II yang berhasil menaklukan konstantinopel. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan secara intensif dari syaikh Aaq Syamsuddin di Istana. Semua tokoh ”produk pendidikan” tersebut pada akhirnya dapat memberikan pengaruh dalam sekup yang makro.

Transformasi peradaban tidak akan terjadi tiba-tiba. Perlu proses panjang untuk mencapainya. Cepat atau lambatnya proses tersebut sangat tergantung pada cepat lambatnya para guru bergerak. Dengan demikian, sangat mungkin generasi perintis yang mengawali proses ini justru tidak pernah menyaksikan ”hasil akhir’ dari apa yang mereka cita-citakan.

Namun, menanyakan hasil tidak lebih penting dari kontribusi itu sendiri. Kontribusi apa yang telah diberikan sehingga hasil itu tercapai. Sebuah bangunan yang megah bukanlah merupakan hasil tangan satu orang. Ada banyak orang yang terlibat di dalamnya. Ada yang menyumbangkan tanah untuk bangunan itu. Dan ada pula yang ”hanya” membetulkan pintu yang rusak.

Untuk itu, transformasi peradaban adalah sebuah proses yang melibatkan peran aktif banyak pihak. Dan guru adalah pihak yang paling menentukan dalam proses itu.
Melalui pendidikan siapapun bisa menjadi apapun. Pergerakan-pergerakan yang pernah ada di dunia sejak drama kehidupan ini dimulai pasti dirintis oleh kalangan terdidik.

Kerajaan Safawid di Persia yang merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar pada abad pertengahan, jika dilihat sejarahnya, ia berawal dari sebuah kelompok perguruan kecil yang hanya terdiri dari beberapa orang yang belajar. Namun tempat belajar yang hanya terdiri dari ”orang-orang kecil” itu merupakan ajang untuk berdiskusi tentang masalah-masalah besar. Dari situlah muncul inspirasi-inspirasi besar, cita-cita dan motifasi yang besarnya melebihi kapasitas mereka yang kecil. Beberapa tahun kemudian, kelompok perguruan kecil itupun bermetamorfosis menjadi sebuah kerajaan yang besar.

Demikianlah peran dan posisi guru sangatlah urgen. Para guru haruslah menyadari betul posisi ini. Sehingga para guru diharapkan selalu menyiapkan diri supaya semakin profesional dalam kapasitasnya sebagai pendidik. Karena itu seorang guru harus berprinsip ”belajar sepanjang hayat”.

Selamat berjuang wahai guru, harapan negeri ini tersemat di pundakmu!

sumber: http://azishtm.blogspot.com