Oleh: Endang Trisnawati

Wajar jika posisi ibu begitu tinggi dan mulia. Hingga taat padanya berada pada urutan ketiga setelah Allah SWT dan Rasul-Nya.
Itu lantaran kasih sayang dan pengorbanan sang ibu kadang jauh di luar nalar manusia. Walau harus dibayar dengan selembar nyawanya.

Yah, kasih sayang itulah yang kemudian mengubah kita menjadi seorang manusia berguna. Olehnya, tidak heran jika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam memberi kemuliaan bagi ibu itu tiga kali lipat ketimbang bapak. Seorang bertanya kepada Nabi, kepada siapa aku harus berbakti?, beliau menjawab, “ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu…”.

Kisah-kisah heroik tentang kasih sayang seorang ibu begitu banyak berserakan dalam lipatan sejarah. Keluh lisan para pujangga mendendangkan syair-syair kasih ibu. Pernah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang ibu miskin beserta dua orang putrinya. Masing-masing oleh Nabi diberi sebiji kurma. Layaknya anak-anak lainnya, kurma itu langsung dilahap oleh keduanya. Setelah itu, tatapan mereka tertuju pada satu arah. Kurma yang berada di tangan sang ibu. Menyaksikan tatapan kedua putrinya itu, ia tersenyum.
Membelahnya menjadi dua bagian, lalu memberikan pada kedua putrinya.
Padahal ia sangat lapar dan butuh. Sampai-sampai Rasulullah terharu. Lalu menyuruh memberikan kurma yang lain padanya.

Masih banyak lagi. Termasuk kisah nyata ini. Kisah seorang ibu bermata satu. Semoga menjadi inspirasi bagi kita. Agar terus bersyukur atas nikmat keberadaan orang tua di sisi kita. Sebab ia akan disadari tatkala keduanya telah tiada..
***
Ibuku seorang wanita bermata satu.
Entahlah, kadang dalam hati aku berontak dan protes. Mengapa Tuhan memberiku seorang ibu bermata satu. Tidak seperti teman-temanku. Ibu mereka begitu anggun dengan mata jelita. Lama kelamaan, aku begitu benci padanya.

Karenanya hidupku dihimpit rasa malu dan cibiran teman-teman.
Apalagi, ibuku hanya seorang tukang masak di sekolah tempat aku belajar. Memang sejak dulu aku tidak mengenal ayahku. Aku pun tidak tahu sebab musababnya. Ia dipanggil Sang Khalik saat aku masih kecil sekali. Jadi untuk menghidupiku, ibu harus bekerja sebagai tukang masak. Hmm, tukang masak yang sangat membuatku minder dan malu terhadap teman-teman. Ada satu peristiwa yang tidak dapat aku lupakan.
Dan itu pula yang menyulut api kebencianku padanya.

Suatu hari, saat aku masih duduk di madrasah ibtidaiyyah, teman-teman sekelas mengejek diriku, hingga aku menangis. Tak kuasa menyaksikan anaknya menjadi bulan-bulanan ejekan, ibuku bergegas datang menghampiriku. Memelukku dan mengusir anak-anak yang mengerubutiku. Perbuatan ibuku itu justru membuatku semakin malu.
Mengapa ia melakukan hal itu dihadapan teman-temanku?
Mengapa ia harus muncul dan menjadikanku bahan tertawaan mereka?
Akan tetapi, aku berpura-pura tidak mengenalnya. Lalu menatap tajam ke arahnya dengan penuh kebencian! Namun ibuku hanya diam dan tidak menjawab.

Yang aku khawatirkan pun terjadi. Keesokkan harinya salah seorang murid berseru lantang,
“Ooh, itukah ibumu yang hanya memiliki satu mata !??”. Seruan itu pun disambut gelak tawa dan ejekan teman-temanku. Sungguh memalukan. Dendam kesumat terhadap ibu yang menjadi sebab aku diolok-olok semakin membara. Mulai saat itu aku sangat ingin mengubur ibuku hidup-hidup. Atau mengusirnya jauh dari kehidupanku.

Pernah suatu hari aku datang menghadapnya. Menatap tajam seraya membentak: “Engkau telah menjadikan aku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak segera mati saja??!! Akan tetapi, sekali lagi ia hanya diam dan tidak menjawab. Nampak pancaran kasih sayang dari keteduhan pandangannya. Saat itu aku tidak lagi berpikir sehat tentang apa yang aku katakan padanya. Aku tidak ragu akan keberanianku itu. Dan aku pun tidak mau tahu bagaimana perasaannya saat itu. Bahkan, ingin sekali aku pergi sejauh-jauhnya agar tidak melihat wajah ibuku.

Tahun bergulir bersama kebencian hatiku terhadap ibu. Tak terasa aku telah menyelesaikan tingkat aliyah, dan mendapat beasiswa kuliah di Singapura. Begitu girang hatiku menyambut hal itu. Aku bisa menjauh dari ibu yang membuatku selalu merasa malu dan minder. Karena ibuku hanya seorang wanita miskin bermata satu. Tidak ada yang dapat dibanggakan darinya.

Segera aku pun bertolak menuju Singapura dibawah tatapan berat ibuku. Memulai hari-hari kuliah di sana. Tak ada lagi ejekan dan hinaan orang-orang terhadapku… Setelah tamat kuliah dan bekerja, aku menikah dengan seorang wanita Singapura dan membeli rumah di sana. Dari hasil perkawinan kami, lahirlah anak-anak yang lucu. Sungguh kehidupanku kini begitu tenang dan bahagia.

Suatu hari, tiba-tiba wanita bermata satu itu datang ke rumahku. Alasannya, ia begitu rindu terhadapku dan juga kepada cucu-cucunya. Sebab, jujur, sejak menginjak Singapura aku tidak pernah lagi pulang menjenguknya. Komunikasi kami hanya sebatas surat menyurat. Itu saja.
Aku sengaja berdiri di depan pintu. Anak-anakku mulai tertawa dan mengejek wanita itu. “Mengapa engkau begitu berani datang dan membuat anak-anakku ketakutan??!
Keluar dan pergi saat ini juga…“. Bentakku.

Tenang ia menjawab: “Maaf, kayaknya saya salah alamat”. Lalu ia berpaling setelah sempat tersenyum padaku dan anak-anakku.

Beberapa hari berselang, datang undangan dari sekolah, untuk acara temu alumni madrasah aliyah tempatku belajar dahulu. Itu artinya, aku akan bertemu ibu juga. Aku pun harus berbohong pada istriku. Bahwa kepergianku ini untuk urusan pekerjaan. Bukan untuk menghadiri temu alumni tersebut.
Setelah acara pertemuan selesai, aku bergegas menuju rumah ibuku, sekedar melihat dan mengetahui keadaannya. Rumah itu masih seperti dulu. Tidak ada perubahan. Cuma di sana sini nampak kayu-kayu usang dimakan rayap. Aku mendorong pintu dan masuk. Namun rumah tua itu kosong. Senyap. Tak ada siapapun di dalamnya. Seluruh barang-barang milikku waktu kecil masih tertata rapi.
Bahkan mainan hasil rautan tangan ibuku pun masih ada dipojok sana. Tapi aneh. Mengapa rumah ini sunyi? Dimanakah ibu?

Setelah berkeliling sejenak, tiba-tiba seorang masuk. Ia adalah tetangga sebelah rumah. Lama ia menatapku. Setelah yakin apa yang dilihat, ia pun berujar, “Ibumu telah meninggal kemarin sore…”.
Anehnya, tak ada setetes air mata pun yang menitik..!!

Tanah kuburan itu masih merah. Angin bertiup lembut mengelus lembut wajahku. Aku berdiri sejenak, hanya untuk “berpamitan” pulang. Walau sebenarnya ada secuil sedih kehilangan wanita itu. Sebuah tangan menyentuh pundakku dari belakang. Ternyata ia adalah tetangga sebelah rumah yang tadi mengabarkan kepergiaan ibuku.
“Ibumu tidak meninggalkan apa-apa nak. Ia hanya berpesan, jika engkau datang agar diberikan surat ini padamu”. Ujar laki-laki paruh baya itu seraya menyodorkan sebuah surat lusuh.

Aku membuka dan membaca isinya:
“Anakku tercinta, sungguh hati ini begitu berat menanggung rindu padamu. Pikiranku begitu kacau memikirkan keadaanmu. Ibu minta maaf atas kunjungan ibu dahulu ke Singapura yang membuat anak-anakmu takut. Yang ibu lakukan itu hanya lantaran begitu rindu padamu.

Sungguh, ibu begitu bahagia mendengar bahwa engkau akan datang menghadiri reuni sekolah itu. Akan tetapi ibu minta maaf, ibu tidak bisa lagi bangkit dari tempat tidur untuk melihatmu wahai anakku.

Oh ya, ibu juga ingin minta maaf sedalam-dalamnya jika selama ini ibu membuatmu malu dan minder.
Sungguh, berjuta-juta maaf ibu haturkan padamu. Tahukah engkau wahai anakku… waktu engkau masih kecil dulu, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu dan merampas salah satu matamu?? Sebagai seorang ibu, aku tidak tega melihatmu besar hanya dengan satu mata.
Karenanya,… ibu berikan engkau salah satu mata ibu.
Sungguh ibu sangat bahagia dan bangga, sebab engkau tumbuh dewasa dengan mata normal dan dapat menyaksikan dunia ini dengan kedua matamu…

Cintaku selalu untukmu…
ibumu..!.

Secarik kertas yang telah basah dengan air mataku itu terasa berat. Berat sekali.
Lututku goyah dan lemas. Aku jatuh berlutut di hadapan pusara yang masih merah itu. Seumur hidupku, baru kali ini aku menangis dan merasa kehilangan ibu.
Dadaku sesak menanggung beban penyesalan yang sangat. Namun semua sudah terlambat.
Penyesalanku ibarat buih yang hancur berkeping terbentur karang yang kokoh…