Kemarin, 27 Desember, 2 tahun yang lalu, seluruh dunia menjadi saksi serangan brutal yang dilancarkan Israel ke Jalur Gaza. Serangan dengan nama sandi “Cast lead Operation” menyebabkan ribuan rakyat Gaza syahid dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Pasca serangan yang berlangsung selama 22 hari itu, kota Gaza menjadi porak-poranda. Rumah, sekolah, masjid, kantor-kantor pemerintahan bahkan Rumah Sakit di Jalur Gaza pun menjadi sasaran bom dan rudal Israel yang ditembakkan secara membabi buta.

Dalam rangka mengenang 2 tahun serangan Israel, MER-C dan sejumlah lembaga Peduli Palestina diantaranya TPM (Tim Pengacara Muslim), DDII (dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), AWG (Aqsa Working Group), Hilal Ahmar Society Indonesia, ASAI (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia), FIM (Forum Indonesia Muda), Laznah Litauhid Khilafah, JAT (Jamaah Ansharut Tauhid), ASUM (Aliansi Solidaritas Umat Muslim), FUI (Forum Umat Islam) dan VOP (Voice of Palestine), pagi ini berkumpul dan menggelar konferensi bersama bertempat di Markas MER-C Pusat Jakarta.

Konferensi pers dibuka dengan pemutaran film flashback peristiwa penyerangan Israel ke Jalur Gaza pada tahun 2008 silam. Usai film berdurasi 10 menit tersebut, setiap perwakilan lembaga yang hadir kemudian memberikan pernyataan mereka terkait “2 Tahun Serangan Israel ke Gaza.”

Sejumlah angka, data dan fakta mengenai kondisi rakyat Gaza akibat tindakan rezim zionis Israel yang tidak berperikemanusiaan diungkapkan oleh perwakilan lembaga-lembaga yang hadir. Blokade yang diterapkan Israel pasca kemenangan Hamas pada 2007 telah membuat rakyat Gaza hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, penyerangan Israel pada 2008 semakin memperparah kondisi ini. Belum lagi penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina membuat Palestina satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah hingga saat ini.

Membebaskan Palestina dari penjajahan Israel adalah kewajiban bangsa Indonesia, demikian pernyataan dari salah satu lembaga, AWG. Bangsa Indonesia berhutang kepada Palestina karena Palestinalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Pembebasan Palestina juga merupakan amanah dari konstitusi kita, pembukaan UUD 45 yang menyatakan bahwa penjajahan terhadap dunia harus dihapuskan. Untuk itu, semua lembaga sepakat dan mendukung bahwa segala bentuk tekanan dan perlawanan terhadap Israel harus terus dilancarkan hingga Israel membuka blokadenya terhadap Gaza dan menghentikan penjajahannya atas Palestina.

Dalam konferensi pers ini juga diungkapkan berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan dalam rangka menembus dan membuka blokade Gaza. Salah satunya adalah ekspedisi “Mavi Marmara” pada misi Freedom Flotilla dimana sejumah WNI termasuk relawan juga turut dalam misi ini. Israel sekali lagi menunjukkan kebiadabannya dengan menyerang kapal yang berisi aktifis dan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza.

Tentara Israel menyerang kapal Mavi Marmara di perairan Internasional yang menewaskan 9 aktifis dan melukai puluhan lainnya termasuk 2 WNI. Tindakan penyerangan Israel yang terjadi pada 31 Mei 2010 ini pun mendapat kecaman keras dari dunia internasional.

Terkait hal ini, Indonesiapun telah melakukan upaya hukum untuk menuntut Israel atas kasus Mavi Marmara dengan membawa bukti dan fakta dari relawan Indonesia. “Pada September 2010, TPM selaku kuasa hukum dari relawan MER-C dan Hidayatullah menyerahkan laporan dan bukti-bukti terkait kasus “Mavi Marmara” ke Dewan HAM PBB (UNHRC-United Nations of Human Right Council) di Jenewa-Switzerland, Mahkamah Pidana Internasional (ICC – International Criminal Court) di Den Haag-Nederlands, dan Amnesty International di Brussel-Belgia,” papar Achmad Michdan selaku perwakilan dari TPM. Upaya hukum ini membuahkan hasil yang menggembirakan. Dewan HAM PBB mengesahkan resolusi yang menyatakan Israel telah melanggar HAM secara serius/berat dalam Insiden Penyerangan terhadap Misi Kemanusiaan Freedom Flotilla.

Gerakan konvoi solidaritas untuk Gaza lainnya yang saat ini tengah dilakukan untuk menembus blokade Gaza adalah “Asia to Gaza Solidarity Caravan” yang merupakan konvoi solidaritas pertama bangsa Asia untuk Gaza yang diikuti sekitar 200 aktifits dari belasan negara di Asia. Sejak berangkat dari New Delhi India pada 2 Desember lalu, saat ini semua peserta konvoi termasuk 13 WNI (MER-C, VOP, AWG, Hilal Ahmar, dan PB HMI) sudah berada di Latakia-Suriah. Sedianya konvoi ini ditargetkan untuk memasuki Gaza pada 27 Desember 2010 atau bertepatan dengan peringatan 2 tahun penyerangan Israel terhadap Gaza.

Menurut Mujtahed Hashim, perwakilan dari VOP, semua peserta konvoi sedang menunggu izin dari otoritas Mesir karena walaupun delegasi Indonesia sudah mengantongi visa Mesir namun masih ada peserta konvoi dari negara lain yang belum mendapat visa. Setelah mendapat izin, semua peserta akan menuju Al Arish dengan menggunakan pesawat, sementara bantuan yang dibawa konvoi sejumlah total 2 juta USD akan diangkut oleh dua kapal laut ke Al Arish.

Misi lainnya yang akan dilakukan untuk terus memberikan tekanan kepada Israel adalah “One Boat to Gaza”, yaitu program satu kapal dari nusantara untuk menembus blokade Gaza yang direncanakan pada tahun 2011 mendatang.

Pada akhir konferensi pers diadakan wawancara langsung dengan dua relawan MER-C di Gaza, yaitu Abdillah Onim dan Nur Ikhwan Abadi yang menginformasikan mengenai situasi dan kondisi terakhir di Gaza juga tentang perkembangan program pembangunan RS Indonesia di sana. Menurut Nur Ikhwan, situasi dan kondisi di Gaza tidak menentu karena beberapa hari terakhir Israel kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Gaza. Masih menurutnya, di Gaza juga akan diadakan peringatan untuk mengenang peristiwa penyerangan Israel 2 tahun lalu, 2 undangan acara ini sudah diterima oleh relawan MER-C di sana. Terkait rencana kedatangan konvoi “Asia to Gaza Solidarity Caravan”, menurut Nur Ikhwan, pemerintah dan rakyat di Gaza sudah siap menyambut kedatangan saudara-saudara mereka dari Asia. “Kami pun siap menyambut kedatangan konvoi ini,” tambahnya. (mer-c.org)