“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari” (QS. Asy-Syams: 1).

Sungguh ada kekuatan yang luar biasa dibalik sebuah tujuan yang terarah dengan tajam. Renungkan betapa hebatnya tenaga sinar matahari yang diarahkan dengan fokus kepada sebuah titik melalui kaca pembesar. Titik kecil yang terarah itu dapat membakar habis kertas bahkan hutan. Sedemikian berbahayanya kekuatan hidup yang terfokus sehingga Iblis dengan sekuat tenaga membuat manusia samar dan bahkan buta akan tujuan hidup mereka yang sesungguhnya.

“Lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang takwa” (QS. Asy-Syams: 8)

Kita percaya bahwa dalam setiap diri manusia tersimpan potensi yang luar biasa untuk mengerjakan perkara-perkara besar. Potensi itu haruslah ditemukan dan dikembangkan secara optimal. Namun dibalik itu semua salah satu hal utama yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk menjadi besar adalah mentalitas yang besar dan hebat. Kemampuan menghadapi tekanan adalah kualitas yang unggul yang diperlukan untuk menjadi dahsyat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, apabila kaum tersebut tidak merubah apa yang ada pada dirinya” (QS.Ar Rad: 11).

Takkala terbentuk pada diri seorang Muslim Aqliyah dan Nafsiyah Islam, maka:
– Ia memiliki kemampuan untuk menjadi seorang prajurit sekaligus pemimpin pada waktu bersamaan.
– Mampu menggabungkan antara Rahmah (sifat kasih sayang) dengan Syiddah (sifat tegas).
– Ia bisa hidup apa adanya atau diselimuti dengan kemewahan.
– Ia memahami kehidupan dengan pemahaman yang benar.
– Ia sanggup menguasai kehidupan dunia sesuai dengan haknya dan berupaya meraih kehidupan akhirat.
– Ia tidak ditaklukkan sifat penghamba dunia, tidak di dominasi sikap fanatik buta terhadap agamanya dan tidak hidup menyengsarakan diri seperti yang dilakukan orang-orang India.
– Pada saat yang sama ia menjadi pahlawan jihad sekaligus singa podium.
– Ia menjadi orang yang terkemuka namun bersifat rendah hati.
– Ia mampu memadukan antara perkara Imarah dengan Fiqih, juga memadukan antara aspek perdagangan dengan politik.

Sifatnya yang paling tinggi adalah sebagai hamba Allah, Sang Pencipta. Anda akan menemukannya sebagai orang yang khusu dalam shalatnya, berpaling dari perkataan yang sia-sia, membayar zakat, dan menundukkan pandangannya, menjaga amanat-amanatnya, memenuhi kesepakatannya, menunaikan janjinya, dan berjihad dijalan Allah. Itulah seorang muslim dan itu pulalah seorang mukmin. Dan inilah kepribadian Islam yang dibentuk oleh Islam dan menjadikannya sebaik-baik manusia sebagai ciptaan. (Syakhshiyah
Islamiyah,I hal.10).

Rahmat Fadli

(azishtm.blogspot.com)