oleh: DR. Muhammad Sarbini MHI

Jahiliyah berasal dari kata Al Jahlu ( لهجلا ) yang berarti bodoh.
Ketika menerangkan arti bahasa dari Al Jahlu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
َوُه ُمَدَع ِمْلِعلْا ْوَأ ُمَدَع ِعاَبِّتِا ِمْلِعلْا َّنِإَف ْنَم ْمَل ِمَلْعَي َّقَحلْا َوُهَف ٌلِهاَج ًالْهَج ًاطْيِسَب. ْنِإَف َدَقَتْعِا ُهَفَالِخ َوُهَف ٌلِهاَج ًالْهَج اًبَّكَرُم..َو َكِلَذَك ْنَم َلِمَع ِفَالِخِب ِّقَحلْا َوُهَف ٌلِهاَج َو ْنِإ َمِلَع ُهَّنَأ ٌفِلاَخُم ِّقَحْلِل
“Al Jahlu adalah tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu. Barangsiapa yang tidak mengetahui Al Haq (kebenaran), maka orang itu Jahil Basith (sederhana), sedangkan jika berkeyakinan menyalahi Al Haq (kebenaran) maka orang itu Jahil Murakkab
(bertingkat). Demikian pula orang yang beramal menyalahi Al Haq (kebenaran), maka diapun jahil, sekalipun dia mengetahui bahwa dirinya menyalahi kebenaran.” (Baca: Kitab “Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim Mukhalifah Ashhab Al Jahim, Tahqiq: Asy Syeikh Muhammad Hamid Al Faqi, Hal: 77-78)

Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan mengatakan bahwa Jahiliyah adalah:
َيِه ُلاَحلْا يِتلَّا ْتَناَك اَهْيَلَع ُبَرَعلْا َلْبَق ِمَالْسِإلْا َنِم ِلْهَجلْا ِهللاِب َو ِعِئاَرَش ِنْيِّدلا َو ِةَرَخاَفُملْا ِباَسْنَألْاِب َو ِرْبِكلْا َو ِرُّبَجَّتلا َو ِرْيَغ َكِلَذ ًةَبْسِن ىَلِإ لْهَجلْا يِذَّلا َوُه ُمَدَع ِمْلِعلْا ْوَأ ُمَدَع ِعاَبِّتِا ِمْلِعلْا
“Kondisi yang dialami bangsa Arab sebelum Islam berupa kejahilan kepada Allah, Rasul-rasul-Nya, Syari`at Ad Dien, berbangga-bangga dengan keturunan, takabbur, sombong dan lain-lain yang dikaitkan dengan kejahilan yang berarti tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu”. (Baca “Kitab At Tauhid”, Hal: 23)

Dari perkataan beliau Jahiliyah dapat dikaitkan dari 2 sisi, yaitu:
1. Sisi Masa/ zaman yaitu kondisi bangsa Arab pra Islam, tentu saja, jika demikian masa ini telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah Saw. Akan tetapi, perlu difahami bahwa masa atau zaman mengandung karakteristik atau peristiwa yang terkandung di dalamnya yang bisa menjadi ukuran bagi zaman atau masa yang lain.

Untuk itu sisi Jahiliyah yang kedua adalah:
2. Sisi Karakteristik (Sifat-sifat atau peristiwa yang terjadi di dalamnya). Sisi ini tidak akan berakhir dengan berakhirnya bangsa Arab atau setelah diutusnya Rasulullah Saw, karena dia bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh zaman manapun, bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh bangsa manapun atau pribadi manapun, termasuk siapa saja di antara kita yang mengaku muslim.

Sisi karakteristik inilah yang dijelaskan oleh Muhammad Quthb tentang arti Jahiliyah dalam Al Qur`an Al Karim. Beliau mengungkapkan “Di dalam Al Qur`an Al Karim lafadz Jahiliyah memiliki makna khusus atau secara hakiki memiliki 2 makna terbatas yaitu:
اَّمِإ ُلْهَجلْا ِةَقْيِقَحِب ِةَّيِهْوُلُألْا َو اَهِصِئاَصَخ َو اَّمِإ كْوُلُّسلا ُرْيَغ ِطِبَضْنُملْا ِطِباَوَّضلاِب ِةَّيِناَّبَّرلا ْوَأ ٍةَراَبِعِب ىَرْخُأ : ُمَدَع ِعاَبِّتِا اَم
َلَزْنَا ُهللا
1. Jahil terhadap hakekat dan karakteristik Uluhiyah, dan
2. Bersikap hidup tanpa memiliki ikatan Rabbani atau dengan kata lain tidak mengikuti ajaran yang diturunkan oleh Allah.”

Kata-kata Dr. Shalih Fauzan “kejahilan kepada Allah…” hingga akhirnya merupakan gambaran karakteristik jahiliyah yang tidak dapat lepas dari 2 unsur pokok yang disebutkan oleh Muhammad Quthb tersebut. Terlebih lagi beliau memberikan sejumlah bukti dalam Al Qur`an dan As Sunnah yang menjelaskan hal itu, diantaranya beliau mengutip firman Allah SWT:
اَنْزَواَجَو ىِنَبِب َليِءاَرْسِإ َرْحَبْلا اْوَتَأَف ىَلَع ٍمْوَق َنوُفُكْعَي ىَلَع ٍماَنْصَأ ْمُهَّل اوُلاَق ىَسوُماَي لَعْجا آَنَّل اًهَلِإ اَمَك ْمُهَل ًةَهِلاَء َلاَق ْمُكَّنِإ ٌمْوَق َنوُلَهْجَت
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab
“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang jahil (terhadap sifat-sifat Ilah)”. (Qs. 6:103)

Jahil yang dimaksud dalam ayat ini adalah tidak mengetahui hakekat Uluhiyyah. Karena, seandainya mereka mengetahui bahwa Allah Ta`ala (tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (QS. 6:103), (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (QS. 42:11), (Pencipta segala sesuatu (QS. 6:102) dan bukan makhluk serta sifat-Nya tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya, niscaya mereka tidak meminta hal tersebut yang menandakan kejahilan mereka terhadap hakekat Uluhiyyah.
ُُةَفِئآَطَو ْدَق ْمُهْتَّمَهَأ ْمُهُسُفنَأ َنوُّنُظَي ِهللاِب َرْيَغ ِّقَحْلا َّنَظ ِةَّيِلِهاَجْلا َنوُلوُقَي لَه اَنَّل َنِم ِرْمَألْا نِم ٍءْىَش
“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini”.(Qs. 3:154)

Yang dicela oleh Allah terhadap kelompok tersebut adalah aqidah tertentu (tashawwur mu`ayyan) yang berkaitan dengan hakekat uluhiyyah. Yaitu aqidah mereka bahwa ada pihak lain yang ikut campur tangan bersama Allah dalam segala urusan serta kejahilan (ketidaktahuan) mereka bahwa yang menyempurnakan perbuatan hanyalah kehendak dan aturan Allah Yang Esa.

َلاَق ِّبَر ُنْجِّسلا ُّبَحَأ َّيَلِإ اَّمِم يِنَنوُعْدَي ِهْيَلِإ َّالِإَو ْفِرْصَت يِّنَع َّنُهَدْيَك ُبْصَأ َّنِهْيَلِإ نُكَأَو َنِّم نيِلِهاَجْلا
Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.
Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. 12: 33)
Makna ayat ini berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani yaitu cenderung untuk (memenuhi keinginan) wanita, melanggar perintah Allah dan terjerumus dalam urusan yang diharamkan Allah. Itulah sesuatu yang oleh Yusuf As dikhawatirkan terjatuh ke dalamnya serta dimintakan perlindungannya kepada Allah.

َنْجَّرَبَتَالَو َجُّرَبَت ِةَّيِلِهاَجْلا ىَلْوُألْا
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang
Jahiliyah yang dahulu”.
(QS. 33:33)
Makna ayat inipun berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani dan mengikuti aturan yang tidak diturunkan oleh Allah seperti wajibnya menjaga diri dan tidak menampakkan perhiasan wanita kecuali terhadap para mahramnya.

َمْكُحَفَأ ِةَّيِلِهاَجْلا َنوُغْبَي ْنَمَو ُنَسْحَأ َنِم ِهللا اًمْكُح ٍمْوَقِّل
َنوُنِقوُي
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. 5:50)
(Baca: Kitab “Ru`yah Islamiyyah Lii Ahwal Al `Alam Al Mu`ashir, Hal : 15-17)

2 karakteristik inilah yang dapat saja terjadi pada perorangan atau suatu negara. Seorang yang tidak mengenal hakekat Uluhiyyah yang benar atau bersikap hidup tanpa ikatan Rabbani tentu disebut memiliki sifat jahiliyyah, walaupun dia mengaku Islam.
Begitu pula sebuah negara yang sistem hukum, norma dan tata nilainya bertentangan dengan hakekat Uluhiyyah atau tidak terikat dengan ikatan Rabbani dapat digolongkan sebagai negara jahiliyyah, walaupun mayoritas penduduknya atau pemimpinnya kaum muslimin